Juli 05, 2008

Packet Switching System (X.25, Frame relay, ATM)

Teknologi yang digunakan dalam WAN
• Circuit Switching
• Packet Switching
Perbedaannya dalam node / simpul yang melakukan switching jalur ke jalur lainnya

Circuit Switching

Dilakukan pembentukan jalur komunikasi (sirkit/circuit) sebelum informasi
dikirimkan (call setup).
Setelah call setup, jaringan transparan terhadap pengguna, tidak ada processing delay
di node, yang ada hanya delay propagasi.
Saluran komunikasi (sirkit) digunakan secara dedicated selama panggilan
berlangsung (even when channel is idle).
Sumber dan tujuan harus mengirim dan menerima pada laju data yang sama.
Setelah panggilan diputuskan, link dapat digunakan oleh panggilan yang lain.
Efisien untuk trafik yang memerlukan delay dan jitter yang rendah serta prosentase
idle yang rendah (misal voice).
Tidak efisien untuk bursty data.
Pembebanan (charges) biasanya berdasarkan waktu koneksi dan jarak.
Digunakan pada PSTN
Contoh Sirkit Switching
1. Multirate circuit switching
Untuk menanggulangi ketidakfleksibelan (penggunaan hanya satu bit rate) pada
circuit switching.
Menggunakan format TDM yang sama seperti pada circuit switching murni
dengan laju kanal dasar yang tetap, namun satu koneksi dapat menggunakan
lebih dari satu kanal dasar.
Kelemahan : tidak fleksibel dan ketidakmampuan menangani bursty source
secara efisien
2. Fast circuit switching
Mengembangkan konsep circuit switching untuk menangani source yang
fluktuatif dan bursty.
Resources dialokasikan jika akan ada informasi yang akan dikirimkan lalu
dilepaskan kembali bila informasi telah selesai dikirimkan.
Pada saat call setup, user meminta koneksi dengan bandwidth yang diperlukan.
Kelemahan : kerumitan perencanaan dan pengendalian
3. Packet Switching
Setiap blok data disebut message (mis: file ASCII, file postcript, sebuah halaman
web, file audio dsb).
Pada packet switching, message dipotong-potong ke dalam paket-paket oleh
sumber sebelum dikirimkan ke jaringan.
Di jaringan, paket-paket tersebut akan melalui link komunikasi dan switch.
Pada input setiap link, paket disimpan lalu diteruskan (stored-and-forwarded).
Dalam setiap switch terdapat buffers (tempat untuk mengantri).
Delay antrian bersifat variable dan tergantung pada kondisi jaringan.
Tidak ada penggunaan sirkit yang dedicated
Datagram Packet Switching
Setiap paket yang berasal dari suatu message yang sama diperlakukan sebagai
entitas yang self-contained (tidak ada hubungan dengan paket yang lain).
Paket-paket datagram dikirimkan ke jaringan tanpa ada jaminan bahwa paket
sampai dengan terurut.
Untuk menanggulangi hal ini, pada penerima harus ada perangkat yang dapat
mengurutkan paket.
Datagram tidak menggunakan acknowledgments.
Pengarahan aliran datagram menuju penerima, dilakukan secara on the fly dengan
mempertimbangkan jalur yang harus ditempuh setiap paket.
PROTOKOL X.25
Standar internasional untuk akses jaringan dengan penyakelaran paket (packet switching)
yang pertama muncul adalah X.25, yang direkomendasikan oleh CCITT (sekarang ITUT)
pada tahun 1976. Frame Relay yang muncul setelah X.25 ternyata jauh lebih efektif
daripada X.25, karena X.25 kerjanya menjadi lambat karena adanya koreksi dan deteksi
kesalahan. Frame Relay memiliki sedikit perbedaan, ia mendefinisikan secara berulang
header-nya pada bagian awal dari frame seperti terlihat pada Gambar 1d, sehingga
dihasilkan header frame normal 2-byte. Header Frame Relay dapat juga diperluas
menjadi 3-byte atau 4-byte untuk menambah ruang alamat total yang disediakan. Dalam
gambar-gambar yang mengilustrasikan jaringan-jaringan Frame Relay, piranti-piranti
pengguna ditunjukkan sebagai pengarah-pengarah LAN, karena hal tersebut merupakan
aplikasi Frame Relay yang berlaku secara umum. Tentu saja mereka dapat juga
merupakan jembatan-jembatan LAN, Host atau front-end processor atau piranti lainnya
dengan sebuah antarmuka Frame Relay.
Header Frame Relay terdiri dari deretan angka sepuluh bit, DLCI (Data Link Connection
Identifier) merupakan nomor rangkaian virtual Frame Relay yang berkaitan dengan arah
tujuan frame tersebut. Dalam hal hubungan antar kerja LAN-WAN, DLCI ini akan
menunjukkan port-port yang merupakan LAN pada sisi tujuan yang akan dicapai. Adanya
DLCI tersebut memungkinkan data mencapai simpul (node) Frame Relay yang akan
dikirimi melalui jaringan dengan menempuh proses tiga langkah yang sederhana yakni:
• Memeriksa integritas dari frame-nya dengan menggunakan FCS (Frame Check
Sequence). Jika melalui pemeriksaan ini diketahui adanya suatu kesalahan, frame
tersebut akan dibuang.
• Mencari DLCI dalam suatu tabel. Jika DLCI tersebut tidak didefinisikan untuk
link (hubungan) yang dimaksud, frame akan dibuang.
• Mengirim ulang (disebut mrelay) frame tersebut menuju tujuannya dengan
mengirimnya ke luar, ke port atau trunk (jalur) yang telah dispesifikasikan dalam
daftar tabelnya.
Dengan demikian, simpul Frame Relay tidak melakukan banyak langkah pemrosesan
sebagaimana halnya dalam protokol-protokol yang mempunyai keistimewaan penuh
seperti X.25.
Membandingkan kesederhanaan Frame Relay dengan pemrosesan pada X.25 yang
lebih kompleks. Demi praktisnya gambar tersebut mencerminkan jalur dari suatu paket
data yang sudah valid. Deskripsi yang menunjukkan pemrosesan langkah-langkah untuk
error recovery (pemulihan akibat adanya kesalahan) dan frame non-informasi untuk X.25
akan jauh lebih rumit. Rangkaian-rangkaian pada Frame Relay merupakan rangkaian
Virtual Circuit (VC). VC ini diatur sejak awal secara administratif baik oleh operator
jaringan melalui sistem manajemen jaringan ( disebut PVC (permanent virtual circuit),
maupun melalui suatu basis call-by-call dalam aliran data normal dengan menggunakan
suatu perintah dari pengguna jaringannya (disebut SVC (switched virtual circuit). Untuk
X.25, metode normal penciptaan panggilan (call set-up) adalah dengan SVC. Karena VC
pada Frame Relay pada umumnya menentukan atau mendefinisikan suatu hubungan
antara dua LAN. Sebuah VC baru tentu dibutuhkan jika akan memasang sebuah LAN
yang baru ke jaringan tersebut, yang dapat di-set-up melalui PVC atau SVC.
FORMAT PAKET X.25
Untuk virtual circuit yang menggunakan nomor urut 15 bit, header dimulai oleh
oktet identifikasi protokol dengan pola 00110000
Header selalu berisi nomor virtual circuit 12 bit:
• Nomor grup 4 bit
• Nomor kanal 8 bit
P(S) adalah nomor urut paket, P® adalah nomor urut ACK, bit Q tidak
didefinisikan dalam standar X25 (cadangan)
Data/informasi kontrol dikirimkan dengan format khusus; digunakan untuk
pembangunan, pemeliharaan, dan pemutusan hubungan virtual circuit
Sebagai contoh, paket Call Request meliputi field tambahan:
• Panjang alamat DTE sumber (4 bit)
• Panjang alamat DTE tujuan (4 bit)
• Alamat-alamat DTE (variabel) alamat lengkap DTE sumber dan tujuan
• Fasilitas lain
terdiri atas kode fasilitas 8-bit dan kode parameter 8-bit

FRAME RELAY

Pada bagian ini akan dibahas pengetahuan tambahan tentang Frame Relay, serta
perkembangannya sampai saat ini yang nampaknya agak spektakuler, yakni
kemampuannya untuk menangani lalu lintas komunikasi suara (telepon), serta
berantarkerja (interworking) dengan jaringan ATM (mode transfer asinkron), suatu hal
yang tidak terbayangkan sebelumnya.
Cara Kerja Frame Relay
Frame Relay merupakan suatu layanan data paket yang memungkinkan beberapa
pengguna menggunakan satu jalur transmisi pada waktu yang bersamaan. Untuk lalu
lintas komunikasi yang padat, Frame Relay jauh lebih efisien daripada sirkit sewa (leased
line) yang disediakan khusus untuk satu pelanggan (dedicated), yang umumnya hanya
terpakai 10% sampai 20% dari kapasitas lebar pita (bandwidth)-nya. Dalam teknik
telekomunikasi, penyakelaran paket (packet switching) dikembangkan untuk memenuhi
komunikasi data yang sifatnya cepat dan akurat. Sebuah paket dapat digambarkan seperti
sebuah amplop atau sampul surat tercatat, mempunyai alamat tujuan, alamat pengirim
atau alamat kembali jika kiriman tidak sampai dan tentu saja isi pesannya atau beritanya
sebagai hal yang pokok.
Dalam paket yang berisi data elektronik, masih dilengkapi dengan deteksi
kesalahan, ada pula konfirmasi dari si penerima dalam bentuk kode yang dikirim kembali
ke pengirim, apakah paket dapat diterima secara utuh. Pada paket data ini ada istilah
frame (bingkai) yakni yang menyatakan batas bingkai sebuah paket. Batas frame ditandai
dengan flag. Demikianlah sehingga data dibawa sepanjang jalur komunikasi dalam
bentuk frame-frame. Struktur dasar sebuah frame adalah seperti terlihat pada :

GFI = General Format Identifier
LCN = Logical Channel Number
LGN = Logical Channel Group
Number
PKT TYPE ID = packet type
identification
FCS = Frame check sequence
DLCI = data link connection Indentifier
C/R = Command/response field bit
(application specific-not modified by network)
FECN = Forward Explicit Congestion
notification
BECN = Backward Explicit Congestion
notification
DE = Discard Eligibility Indicator
EA = Address Extension
(allow indication of 3 or 4 byte header)
Gambar 1. (a) Struktur dasar frame, (b) Field informasi pada X.25
(c) Struktur frame pada Frame Relay, dan (d) Format header pada Frame Relay
Gambar 1a dan Gambar 1b menyatakan uraian isi information field pada paket X.25.
Gambar 1c dan Gambar 1d masing masing menyatakan struktur frame dan header (kepala
paket) pada Frame Relay. Header merupakan data tambahan pada informasi yang
dikirimkan, berisi tanda pengenal pengirim maupun penerima serta tanda-tanda lain yang
diperlukan untuk menjamin penyampaian yang benar dari seluruh informasinya (lihat
Gambar 1b dan Gambar 1d).
ARSITEKTUR FRAME RELAY
Inti dari FRS adalah packet yang dikirimkan, disebut juga frame. Masing-masing
frame memiliki header fix dan payload yang besarnya variabel. Limited error control
pada frame relay(error detection link-by-link, error recovery end-to-end, no flow
control). Flag Data link connection identifier (DLCI) (6 bits) C/R & EA (2 bits) DLCI
extension (4 bits) Congestion information bits ( 3 bits) EA (1 bit) Payload (262 - 8000
bytes) Frame Check Sequnce Flag.
Tidak seperti paket LAN, frame ini tidak mengandung alamta sumber atau tujuan.
Ini karena sumber dan tujuan dispesifikasikan untuk koneksi saat waktu instalasi (untuk
PVC) atau selama call setup (untuk SVC). Dalam kedua kasus, hasilnya adalah DLCI
yang mengidentifikasikan VC yang diasosiasikan dengan koneksi. Frame Check
Sequence dihitung ketika frame dibuat, dan diinjeksikan ke network interface. FCS ini di
cek setiap hop di jaringan FRS dan jika dideteksi kesalahan maka Frame tersebut
dibuang. Inti dari FRS adalah packet yang dikirimkan, disebut juga frame. Masingmasing
frame memiliki header fix dan payload yang besarnya variabel.


Penjelasan arsitektur frame dari kiri ke kanan :
• Flag Mengindikasikan awal frame. Flag yang mempunyai form yang sama dengan
flag ini yang terletak di akhir frame menunjukkan akhir dari frame.
• Data Link Connection Identifier (DLCI), 10 bit field (dipisah menjadi 6 dan 4 bit)
mengidentifikasikan Virtual Circuit (VC) pada tersebut.
• Command/Response flag (C/R), digunakan untuk kendali aliran local transport.
• Dua Extension Address (EA) yang terpisah yang digunakan untuk expansi DLCI
di dalam jaringan carrier.
• Congestion Information Bits (CIB), sekumpulan flag diset oleh jaringan, ketika
terjadi congestion pada jaringan ketika frame sedang dalam perjalanan.
• Payload. Sekumpulan data yang besarnya variabel (besar maksimum ditentukan
oleh penyedia jaringan).
• Frame Check Sequence (FCS), Bit reduncant untuk mencek validasi Frame,
ketika sedang dalam perjalanan.

Interkoneksi LAN menggunakan Frame Relay Service
FRS memiliki banyak kegunaan untuk teknologi interkoneksi LAN. Pertama,
keuntungan tradisional dari packet switching pada FRS, koneksi fisik jaringan tunggal
memotong pembiayaan hardware dan jalur, bandwidth on-demand mensupport pola
traffic yang bursty, dan proses charges hanya terjadi saat proses transfer data. Kedua,
Frame informasi yang besarnya variabel dapat mengakomodasi berbagai jenis embedded
paket LAN, seperti tampak pada gambar di bawah. Ini merupakan keuntungan dari FRS
yang bisa digunakan sebagai bridges atau router.
Keuntungan lainnya ialah FRS tidak sensitif terhadap jarak, sehingga cocok untuk
koneksi metropolitan. Sepanjang semua node termasuk ke dalam satu cloud, tidak ada
inter-exchange carriers dimasukkan ke dalam biaya jalur dan biayanya murni tergantung
pada bandwidth. Pertimbangan primer pemesanan FRS adalah payload maksimum dan
harga CIR/CBS. Harus diyakinkan bahwa maksimum payload yang disupport dapat
mengakomodasi paket terbesar pada jaringan LAN yang ingin dikoneksikan.
CIR harus dipilih dengan harga yang sudah ditoleransi dengan suatu margin
tertentu, setelah dilakukan pengukuran kecepatan traffic koneksi. Jadi, jika rata-rata
aliran traffic 220 kbps, CIR bisa dipiih 256 kbps yang akan mencegah penolakan karena
congestion traffic yang biasanya melebihi harga rata-rata ini. CBS bisa dipilih untuk
harga konservatif, jika dilakukan pengukuran yang menghasilkan burst maksimum 900
kilo bits pada dua hingga tiga detik interval, harga CBS bisa dipilih 1000 kilo bits yang
akan meyakinkan bahwa perubahan traffic tidak menimbulkan congestion pada traffic.
Servis transport lokal - channel yang menghubungkan interface jaringan dengan FRS
switch - harus dipilih yang bisa memenuhi perpindahan carrier lokal (local exchange
carrier). Link digital harus cukup kapasitasnya untuk menangani maksimum traffic.
Layanan PASOPATI yang pernah ditawarkan oleh penyedia jasa telekomunikasi
di Indonesia beberapa waktu yang lalu ternyata kurang mendapat tanggapan dari
pengguna jasa di Indonesia. ISDN berbasis 64 kbps ini (sering disebut sebagai N-ISDN)
ternyata hanya dapat memberikan servis berupa (digital) telepon, data, telemetry, (digital)
faksimile dan multimedia secara terbatas.

ATM ( Asynchronuous Transfer Mode )

Asynchronuous Transfer Mode (ATM) merupakan model transfer yang digunakan
dalam implementasi B-ISDN yang telah distandardisasikan melalui CCITT (ITU) series
I. Transfer adalah istilah yang digunakan oleh ITU-T untuk menjelaskan suatu teknik
yang digunakan dalam suatu network telekomunikasi yang meliputi aspek=aspek yang
terkait dengan switching, multiplexing, dan transmisi. Pada ATM seluruh informasi yang
akan ditransfer akan dibagi menjadi slot-slot dengan ukuran tetap yang disebut cell.
Ukuran cell pada ATM adalah 53 octet (1 octet =8 bits) yang terdiri dari :
48 octet untuk filed informasi, dan
5 octet untuk heaDER.
Asynchronuous Transfer Mode (ATM) suatu evolusi menuju jaringan B-ISDN
Overview
Karakteristik ATM
- Tidak ada error control dan flow control link-by-link
- Connection oriented
- Fungsi header dikurangi : hanya identifikasi virtual circuit untuk keperluan ruting
dan keperluan maintenance
- Panjang field informasi relatif pendek
Standar ATM
Saat ini ada dua badan menangani standardisasi ATM yaitu:
CCITT/ITU-T dan ATM Forum. ITU-T lebih berkonsentrasi pada standardisasi ATM
untuk public B-ISDN network. Definisi ATM secara detail telah difinalisasi oleh ITU-T
SGXVIII. ITU-T telah menerbitkan beberapa rekomendasi yang terkait dengan ATM
sebagai berikut:
Pada tahun 1991, sejumlah vendor CPE (Customer Premises Equipment), vendor Public
Equipment, Operator Telekomunikasi, dan pemakai ATM membentuk ATM Forum yang
bertujuan untuk mempercepat pengembangan dan implementasi produk-produk dan
services ATM di lingkungan private. ATM Forum lebih berkonsentrasi dalam
menentukan spesifikasi ATM CPE dan ATM Private Switching yang antara lain telah
berhasil menerbitkan :
Private User-Network Interface : antara ATM User dengan Private ATM Switch
Public User-Network Interface : antara ATM User dengan Public ATM Switch.
Selain itu, ATM Forum juga memproses spesifikasi ATM di area operasi,
signalling, NNI, kontrol kongesti, managemen trafik, aplikasi dan Adaptation Layer yang
baru. Pada sistem telekomunikasi modern, model OSI telah digunakan untuk menjelaskan
organisasi dari seluruh fungsi-fungsi komunikasi dengan pendekatan layer (layer
approach). Fungsi –fungsi dari layer dan hubungan layer satu dengan lainnya dijelaskan
dalam suatu Ptotocol Reference Model (PRM). ATM layer digunakan untuk melakukan
fungsi multiplexing dan switching / routing ATM Adaptation Layer (AAL), yang
bertanggung jawab untuk melakukan adaptasi informasi service dari layer yang lebih
tinggi ke ATM stream.
Layer-layer tersebut kemudian dibagi lagi menjadi sublayer-sublayer. Setiap
sublayer melakukan sejumlah fungsi-fungsi yang akan dijelaskan pada bagian berikut
ini. Cell-cell tersebut ditempatkan dalam sistem transmisi dengan mengacu pada metode
mapping yang telah distandardisasi. Sebagai tambahan, ATM Forum juga menambahkan
FDDI (Fiber Distributed Data Interface) sebagai option untuk user-network interface.
Melakukan suatu mekanisme yang memungkinkan receiver untuk memulihkan kembali
(recover) batas –batas cell (cell boundaries).
Membangkitkan HEC Sequence yang dilakukan pada arah kirim. HEC Sequence
disisipkan dalam salah satu field pada header ATM cell. Pada sisi terima, nilai HEC
dihitung kembali dan dibandingkan dengan nilai yang diterima, jika memungkinkan
maka error pada header akan dapat dikoreksi. Melakukan mekanisme pada arah kirim
dengan menyisipkan idle cell untuk mengadaptasi rate dari ATM cell ke kapasitas
payload dari sistem transmisi. Pada arah terima fungsi cell rate decoupling akan
menghilangkan seluruh idle cell yang ada sehingga hanya assigned cell dan unassigned
cell saja yang diteruskan ke ATM layer.

Kualitas Pelayanan (QoS) Jaringan ATM

Diperlukan kualitas pelayanan pada jaringan Asynchronous Transfer Mode
selanjutnya disebut ATM karena ATM dapat digunakan untuk menanganiberbagai
macam pelayanan (multi service) sehingga ATM merupakantransfer mode yang
direncanakan akan digunakan sebagai transfer modepada jaringan masa depan. Jaringan
ATM adalah jaringan Packet-switching karena konsep ATM miripdengan konsep yang
digunakan packet-switching yaitu transfer informasidilakukan dalam format sel
(informasi yang akan dikirim dibagi menjadipotongan-potongan dengan ukuran tertentu)
yang sifatnya connection-oriented artinya sebelum transfer informasi dilakukan harus
dibangunhubungan terlebih dahulu atau definisikan sebagai protokol yang
berfungsisebagai interface (baca antarmuka) untuk menghubungkan komputer
dengankomputer lainnya, membuat tiap komputer yang terintegrasi di dalamnyadapat
bercakap-cakap atau bertukar informasi dengan kecepatan tinggi(sampai dengan
155Mbps).
Menurut De Prycker, cara kerja ATM dalam mentransfer informasi dari
satupemakai ke pemakai lainnya terbagi atas tiga tahap, yaitu; tahap virtualconnection
set-up, tahap transfer informasi, dan tahap virtual connectionrelease. Proses pembentukan
hubungan bergantung arsitektur jaringan ATMyang digunakan. Pada tahap virtual
connection set-up dilakukan pemeriksaan apakahresources (kapasitas saluran/bandwidth
berupa virtual channel connectionatau virtual path connection VCC/VPC) yang
dibutuhkan tersedia, jikaresources tersedia maka dialokasikan resources sebesar yang
dibutuhkan.
Pada tahap transfer informasi dilakukan informasi berupa sel-sel dengan ukuran
yang konstan melalui hubungan logika yang telah dibangun pada tahap sebelumnya.
Setiap sel memiliki memiliki header yang menunjukkanhubungan logika mana yang
dituju virtual channel identifier/virtual pathidentifier (VCI/VPI). Transfer sel-sel akan
melalui sejumlah switching node,pada switching node tersebut terdapat tabel translasi
yang akanmenggantikan nilai VCI/VPI lama menjadi nilai yang baru. Dengan
prosestranslasi ini sebenarnya telah dilakukan pula proses routing. Apabila transfer
informasi telah selesai dilakukan maka akan dilakukan tahapvirtual connection release.
Pada tahap ini dilakukan penghilangan nilaiVCI/VPI (sehingga nilai VCI/VPI bisa
digunakan untuk transfer informasi yanglain) yang berarti hubungan logika yang telah
dibangun dan digunakan sebelumnya dapat dibubarkan.
Parameter kualitas pelayanan pada jaringan ATM yaitu:
Control Call dan Transfer Informasi.

Reassembly delay adalah delay yang diperlukan untuk membentuk data aplikasi
dari sel-sel ATM pada node tujuan.
1. Sejak diperkenalkannya X.25 sebagai teknologi packet switching yang pertama, telah
terjadi banyak evolusi pada konsep sistem untuk jaringan yang berbasis packet
switching.
2. Alasan yang mendasari perubahan konsep tersbut adalah kebutuhan fleksibilitas yang
lebih tinggi, kebutuhan untuk mengirimkan layanan selain data (terutama high bit rate
service) dan kemajuan teknologi yang memungkinkan pengembangan sistem yang
lebih cepat, berkualitas tinggi serta lebih rumit tetapi dengan biaya yang lebih murah.
3. Ide dasar dari perubahan konsep tersebut di atas adalah adanya fakta beberapa fungsi
yang tidak perlu dilakukan berulangkali di dalam jaringan bila suatu layanan masih
dapat dijamin walaupun fungsi-fungsi tersebut hanya diimplementasikan pada
boundary-of-network.
4. Ide dasar ini dapat diterapkan pada dua fungsi yang ditawarkan jaringan yaitu :
information (semantic) transparency, dan time transparency Information (semantic)
transparency.
5. Information transparency adalah fungsi yang menjamin pengiriman bit-bit data agar
sampai dengan benar di penerima

Time transparency
Time transparency adalah fungsi yang menjamin pengiriman informasi untuk sampai pada
waktunya.
X.25 dan frame relay sulit digunakan untuk mengirimkan informasi yang real time.
ATM mampu mengirimkan informasi real time karena delay dan jitter pada jaringan dapat
dikurangi seminimal mungkin
Teknik yang digunakan pada jaringan telekomunikasi yang meliputi aspek transmisi,
multiplexing, dan switching.

Dengan demikian, rangkuman dari pengertian prinsip kerja Frame Relay adalah;
• Aliran data pada dasarnya pengarahannya berbasis pada header yang memuat
DLCI, yang mendeskripsikan tujuan frame-nya. Jika jaringan mempunyai
masalah dalam menangani sebuah frame, baik yang disebabkan oleh kesalahan
jaringan atau kemacetan secara praktis ia akan membuang frame tersebut.
• Frame Relay membutuhkan jaringan dengan laju kesalahan yang rendah (low
error rate) untuk mencapai kinerja yang baik. Jaringannya tidak mempunyai
kemampuan untuk mengoreksi kesalahan, maka Frame Relay tergantung pada
protokol-protokol pada lapisan yang lebih tinggi di dalam piranti-piranti
pengguna yang memiliki kecerdasan untuk memulihkannya dengan
mentransmisikan ulang frame-frame yang hilang.
• Pemulihan kesalahan oleh protokol-protokol lapisan yang lebih tinggi, walaupun
itu otomatis dan andal, adalah tidak ekonomis dipandang dari sudut penundaan
pemrosesan dan lebarpita. Maka mau tidak mau jaringannya harus
meminimumkan terjadinya pembuangan frame.

Keuntungan ATM adalah bandwidth yang lebih tinggi dan statistical multiplexing dari
paket-paket kecil dengan bandwidth terjamin dan latency dan jitter minimal. Tidak
seperti ISDN, range bandwidth pada ATM cukup untuk seluruh aplikasi telemedicine,
termasuk MPEG-2 video stream. Transfer citra yang besar yaitu 250 Mb akan
memerlukan 1,6 detik pada kecepatan 155 Mbps tanpa kompresi dan mengabaikan
network overhead. Dengan kompresi 20:1 dan mengabaikan waktu kompresi dan
dekompresi citra, transfer ini akan memerlukan waktu 0,08 detik pada kecepatan 155
Mbps. Sebagai tambahan, karena ATM connection yang memakai physical link secara
bersama (sharing) secara logika terpisah, ekses trafik dari satu connection tidak akan
mempengaruhi connection lain termasuk connection dengan sumber dan tujuan yang
sama.
ATM juga menawarkan “bandwidth on demand” yang memungkinkan sebuah
connection mengirimkan bandwidth yang lebih lebar hanya jika diperlukan. Kerugian
menggunakan ATM untuk telemedicine adalah biaya yang tinggi dan sulit didapatkannya
peralatan ATM dan saluran telekomunikasi yang diperlukan khususnya untuk rural area.
Kedua hal ini mulai dapat diatasi dengan meningkatnya jumlah peralatan ATM dan
saluran transmisi yang diharapkan meningkat kualitasnya di masa depan. Biaya juga
diharapkan menurun dengan meningkatnya pasar ATM. Persyaratan networking untuk
telemedicine bergantung pada aplikasi yang digunakan. Dalam sebagian besar kasus,
telemedicine tidak terbatas pada teleconferencing. ISDN dapat digunakan pada low-end
application, tetapi BRI ISDN tidak mendukung kebutuhan bandwidth untuk aplikasi
telemedicine yang luas yang memerlukan multimedia bitstream yang simultan khususnya
diagnostic-quality, full motion video. Banyak aplikasi telemedicine yang memerlukan
bandwidth yang lebih besar dan kualitas yang terjamin, hal ini dipenuhi oleh ATM.

0 komentar: